Tuesday, April 18, 2017

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENGUNJUNG TERHADAP KUALITAS PELAYANAN MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI DENGAN METODA IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENGUNJUNG
TERHADAP KUALITAS PELAYANAN MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI
DENGAN METODA IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS







 



diajukan oleh:
Chusnul Chotimah
12/340482/PEK/17143




Kepada
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
INTISARI


Penelitian ini dilakukan di Museum Gunungapi Merapi DIY. Kepuasan pengunjung ditentukan oleh kualitas pelayanan yang baik, maka pengelola museum harus mengetahui hal-hal apa saja yang dianggap penting oleh pengunjung dan berusaha untuk menghasilkan kinerja sebaik mungkin, sehingga dapat memuaskan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi, dan untuk mengetahui indikator-indikator pelayanan apa saja yang harus ditingkatkan dan pertahankan oleh Museum Gunungapi Merapi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Metoda analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Importance Performance Analysis. Dalam penelitian ini menggunakan probability sampling, yaitu sampling sistematik. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada 79 reponden terpilih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi cukup tinggi yaitu sebesar 87,19 persen. Indikator yang masuk dalam kuadran A dan perlu perhatian khusus oleh pihak museum untuk ditingkatkan yaitu interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman, pada kuadran B indikator-indikator yang harus dipertahankan yaitu ruangan yang luas dan cukup ruang bagi para pengunjung, kecepatan petugas dalam melayani pengunjung, kerelaan petugas membantu pengunjung museum, jam operasi sesuai kebutuhan pengunjung, dan sikap petugas museum dalam mengutamakan kepentingan pengunjung.

Kata kunci: Museum, Importance Performance Analysis (IPA)





















ABSTRACT


The research was conducted at Merapi Volcano Museum DIY. Visitor satisfaction is determined by the good service quality, on the purpose of giving satisfaction to visitiors the museum manager should know which things were important to visitors in order to strive for the best possible performance. This research aimed to determine the level of visitor satisfaction on the service quality of Merapi Volcano Museum, and knowing what service indicators needed to be improved and maintainade by the the Merapi Volcano Museum to make it better. The analysis method used in this research is called Importance Performance Analysis (IPA). The research uses probability sampling, the systematic sampling. It uses primary data obtained from the deployment questionnaires of 79 selected respondents.
The results showed that the level of visitor satisfaction on the  services quality of Merapi Volcano Museum is quite high at 87.19 percent. Indicator whinch fall into quadrant A require special attention by the management to be improved are the attractiveness and comfort of the interior room décor, indicators in quadrant B that have be maintained consist of the amount of space or visitors, the speed of service to visitors, staff willingness to help, convenient hours of operation, and the attitude of officials in contact with the visitors.

Keywords: Museum, Importance Performance Analysis (IPA)












1.1       Latar Belakang
            Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya. Masing-masing provinsi di Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata yang cukup terkenal di Indonesia. Kekayaan wisata budaya, wisata sejarah, wisata alam, wisata pendidikan maupun wisata kuliner menjadikan Yogyakarta sebagai magnet wisata yang cukup menarik. Salah satu potensi wisata yang terdapat di Jogja adalah museum Gunungapi Merapi.
Museum Gunungapi Merapi merupakan wahana wisata yang dirancang sebagai wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Museum ini diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro.
Museum Gunungapi Merapi buka pada hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 08.30 WIB – 15.30 WIB. Wisatawan yang ingin memasuki Museum Gunungapi Merapi diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp3.000,00. Museum yang memiliki semboyan “Merapi Jendela Bumi” ini menempati lahan seluas 3,4 hektar dengan luas bangunan 4.470 m2 dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berisikan benda-benda koleksi museum yang dibagi dalam ruangan-ruangan dengan tema Volcano World, On The Merapi Volcano Trail, Manusia dan Gunungapi, Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, Bencana Gerakan Tanah, Diorama, Peralatan Survey, Extra-terestrial Volcano, dan fasilitas penunjang lainnya. Pada lantai dua digunakan sebagai gedung pemutaran film tentang Gunung Merapi.
Meski memiliki fasilitas yang lengkap dan menampilkan berbagai koleksi yang bagus, museum ini kurang begitu diminati. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pengelola museum agar lebih memprioritaskan kepuasan para pengunjung agar museum ini dapat lebih dikenal dan tentunya diminati para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pengelola museum harus mengetahui hal-hal apa saja yang dianggap penting oleh pengunjung dan berusaha untuk menghasilkan kinerja sebaik mungkin, sehingga dapat memuaskan pengunjung.
Kepuasan pengunjung ditentukan oleh kualitas pelayanan yang baik, sehingga jaminan produk menjadi prioritas utama bagi pihak museum yang ada pada saat ini dan khususnya dijadikan sebagai tolak ukur keunggulan daya saing untuk jangka panjang. Tingkat kepuasan pengunjung dapat menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pengelola museum dalam kegiatan menejemen aset. Semakin baik menejemen asetnya, maka akan semakin baik pula tingkat kepuasan konsumen, yang akan berimplikasi pada jumlah kunjungan wisatawan.
Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut pada  museum Gunungapi Merapi. Dengan rumusan masalah yang diangkat adalah: Bagaimanakah tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi? Serta Atribut-atribut pelayanan apa sajakah yang harus ditingkatkan dan di pertahankan oleh Museum Gunungapi Merapi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga diharapkan kedepannya kualitas kepuasan pengunjung museum lebih baik.


1.2       Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi, Serta untuk mengetahui indikator-indikator pelayanan apa sajakah yang harus ditingkatkan dan pertahankan oleh Museum Gunungapi Merapi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

1.3              Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap kinerja pelayanan Museum Gunungapi Merapi. Yakni untuk  mengetahui kekurangan serta kelebihan Museum Gunungapi Merapi, dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan peningkatan kualitas Museum Gunungapi Merapi agar bisa mengupayakan tindakan perbaikan yang tepat untuk pengembangan dan peningkatan kualitas layanan serta kepuasan pengunjung sehingga Museum Gunungapi Merapi dapat mempertahankan loyalitas pengunjung.

2.1       Keaslian Penelitian
Menurut Hui-Ying dan Chao-Chien (2008), meneliti museum Prehistory yang berfokus pada budaya prasejarah dan pribumi. Penelitian ini dirancang untuk memahami kualitas layanan dan kepuasan wisatawan dari museum prasejarah melalui pengalaman pengunjung. Dengan menggunkan metoda analisis yang meliputi statistik deskriptif, uji t sampel berpasangan, analisis faktor terkait pearson, analisis kredibilitas, dan importance performance analysis (IPA). Penelitian ini menggunkan kuesioner, dimana kuisioner ini dibagi menjadi enam bagian yakni hiburan pendidikan, responsiveness dan assurance, kehandalan, tangibility, kenyamanan, dan perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah kunjungan mereka, para wisatawan yang paling puas dengan kebersihan lingkungan secara keseluruhan dan proses ticketing. Sebagian besar pengunjung memiliki kepuasan terhadap museum. Serta menunjukkan bahwa untuk pengetahuan profesional pemandu wisata, metoda penjelasan dari pemandu wisata dan waktu pembukaan,masih belum memuaskan. Sehingga perlu adanya kemungkinan perbaikan.
Menurut Tyrrell dan Okrant (2010), Importance performance analysis (IPA) merupakan analisis yang cukup populer, murah, mudah dipahami untuk mengatur Informasi tentang atribut suatu produk atau layanan dan memberikan intuitif strategi menarik untuk bisnis untuk menetapkan prioritas untuk perubahan potensial. Selain murah dan mudah dipahami, juga dapat menghasilkan wawasan penting yang aspek dari bauran pemasaran perusahaan harus memberikan lebih banyak perhatian serta mengidentifikasi daerah-daerah yang mungkin memakan terlalu banyak sumber daya. Dalam penelitian ini, diperoleh bahwa IPA dapat memberikan manfaat tambahan, yakni berguna untuk memprioritaskan masalah yang dihadapi organisasi, apakah tujuan jangka panjang yang tepat telah ditetapkan.
Menurut Wong, Hideki dan George (2011), dalam penelitiannya yang membahas dan menerapkan teknik IPA untuk mengukur manfaat e-government dari perspektif pengguna e-government Jepang untuk menemukan area fokus untuk alokasi sumber daya. Importance Performance Analysis (IPA) merupakan alat strategis yang dapat dengan cepat mengaktifkan perencana e-government untuk memahami kebutuhan pelanggan dan keinginan (prioritas penting daerah) dan juga untuk menilai kepuasan pelanggan daripada mengandalkan pada indikator kinerja saja.
Menurut Ihshani (2005), dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan Importance Performance Anlysis (IPA) menunjukkan bahwa  sebanyak 88 persen dari total konsumen akan tetap membeli produk jasa wisata, sedangkan sebanyak 12 persen tidak melakukan pembelian lagi. Bagi konsumen yang melakukan pembelian walaupun harga mengalami peningkatan dapat disebabkan karena konsumen merasa bahwa  harga bukan merupakan pertimbangan awal dalam melakukan pembelian tetapi lebih kepada kepuasan dalam mengkonsumsi jasa wisata tersebut.
Menurut Londo (2011), dalam penelitiannya yang dilakukan dengan menggunakan metoda Importance Performance Analysis (IPA) dan uji Kruskal Wallis, memperoleh hasil bahwa dari 23 faktor yang berperan dalam manajemen aset tanah dan bangunan, terdapat 9 faktor terletak pada kuadran A (concentrate-here), 3 faktor berada pada kuadran B (keep up good work), 4 faktor berada pada kuadran C (low priority) dan 7 faktor berada pada kuadran D (possible overkill). Faktor-faktor yang berada dalam kuadran A adalah faktor-faktor yang sangat penting untuk menjadi prioritas oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe dalam upaya peningkatan manajemen aset tanah dan bangunan.

2.2       Landasan Teori
2.2.1    Teknik sampling
Bentuk pengambilan sampel probabilitas yang serba guna adalah pengambilan sampel sistematik. Menurut Supranto (2000: 282), sampling sistematik ialah sampling di mana pemilihan elemen sampel dilakukan seperti berikut: Elemen pertama dipilih secara random dari k elemen yang pertama dari kerangka sampling dan elemen-elemen lainnya dipilih  berdasarkan jarak sebesar k. Sampel yang diambil dengan cara ini disebut juga sampel sistematis satu di dalam k.
2.2.2    Analisis tingkat kesesuaian persepsi dan harapan
Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor persepsi dan skor harapan. Hal ini digunakan untuk menentukan urutan prioritas peningkatan kualitas produk jasa yang dimaksud. Analisis tingkat kesesuaian dengan model analisis Martila dan James (1977) dihitung menggunakan persamaan di bawah ini. Simbol Ki menunjukkan tingkat kesesuaian, Xi merupakan persepsi pelanggan dan Yi  adalah harapan pelanggan.
                                                                                                       ............(3.1)

2.2.3    Metoda Importance Performance Analysis (IPA)
Metoda Importance Performance Analysis (IPA) pertama kali diperkenalkan oleh Martilla dan James (1977) dengan tujuan untuk mengukur hubungan antara kinerja (performance) dan prioritas peningkatan kualitas produk atau jasa yang dikenal pula sebagai quadrant analysis. Interpretasi grafik IPA sangat mudah, grafik IPA dibagi menjadi empat buah kuadran, yaitu kuadran A (tingkatkan kinerja), kuadran B (pertahankan kinerja), kuadran C (prioritas rendah) dan kuadran D (cenderung berlebihan).
Kualitas setiap kriteria kinerja digambarkan oleh nilai gap antara penilaian  persepsi  pengunjung  dan  penilaian  harapan  pengunjung  terhadap kriteria yang sama. Penilaian kualitas jasa menggunakan model servqual mencakup perhitungan perbedaan di antara nilai yang diberikan pelanggan untuk setiap pasang pernyataan berkaitan dengan harapan dan persepsi.
Skor servqual (Gap) =  Skor Persepsi – Skor Harapan                       .......(2.1)
Sumber: Martilla, J. and James J. (1977)

Gambar 2.1
Kuadran Importance- Performance Analysis

3.1              Metoda Penelitian
3.1.1    Populasi penelitian
Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung yang mengunjungi Museum Gunungapi Merapi Desa Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pengunjung yang mengunjungi Museum Gunungapi Merapi Desa Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.
3.1.2    Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Museum Gunungapi Merapi Desa Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan penelitian (pengambilan data) dilakukan 2 hari yaitu pada tanggal 9 Oktober dan 13 Oktober 2013.

            Pada penelitian ini menggunakan metode probability sampling yaitu sampling sistematik. Sampling sistematik adalah sampling yang pemilihan sampelnya dilakukan dengan memilih secara random elemen pertama dari k elemen yang pertama dari kerangka sampel dan elemen-elemen lainnya dipilih berdasarkan jarak sebesar k. Dengan mengguakan sampling sistematik diperoleh sebanyak 79 responden.

3.2              Deskripsi Hasil Penelitian
3.2.1    Uji validitas dan reliabilitas
Uji validitas dilakukan dengan software SPSS  dengan menggunakan korelasi correlated item-total correlations antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total. Bila hasil korelasi signifikan, berarti dapat disimpulkan masing-masing indikator pernyataan valid. Dengan menggunakan jumlah responden sebanyak 79, maka r tabel dapat diperoleh melalui tabel r-product moment pearson dengan df (degree of freedom) = n-2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Pada kasus ini jumlah sampel (n) = 79, jadi besarnya df dapat dihitung 79-2 = 77, dengan df 77 dan alpha = 0,05 maka didapat r tabel = 0,221. Butir pertanyaan dikatakan valid jika nilai r hitung ≥ r tabel. R hitung dapat dilihat dari tampilan output Cronbach's Alpha pada kolom Corrected Item-Total Correlation.
Hasil uji validitas untuk data kinerja, koefisien korelasi tiap item validitas berkisar antara yang terendah 0,376 sampai dengan tertinggi 0,649. Hal ini menunjukkan bahwa semua item mempunyai koefisien korelasi > 0,221, sehingga item dalam kuesioner dinyatakan valid.
Hasil uji validitas untuk data harapan, koefisien korelasi tiap item validitas berkisar antara yang terendah 0,325 sampai dengan tertinggi 0,648. Hal ini menunjukkan bahwa semua item mempunyai koefisien korelasi > 0,221, sehingga item dalam kuesioner dinyatakan valid.
Hasil uji reliabilitas untuk data kinerja dilakukan dengan membandingkan milai r tabel dengan nilai (r total) dapat dilihat dalam kolom Cronbach Alpha pada output SPSS. Nilai Cronbach Alpha untuk data kinerja > r tabel yaitu sebesar 0.891 maka terdapat korelasi antara variabel satu dengan yang lain (butir pernyataan reliabel). Untuk data harapan diperoleh nilai Cronbach Alpha sebesar 0.876 maka terdapat korelasi antara variabel satu dengan yang lain (butir pernyataan reliabel).
3.2.2        Analisis deskriptif
Sebelum menganalisis lebih lanjut, akan ditampilkan karakteristik dari 79 responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Karakteristik yang dimaksud meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, asal daerah, dan frekuensi kunjungan.
Dari 79 responden, diperoleh informasi bahwa sebanyak 58 persen pengunjung museum adalah perempuan, dan sebanyak 42 persen pengunjung museum adalah laki-laki. Pengunjung perempuan lebih mendominasi. Jika dilihat dari usia pengunjung, sebanyak 40 persen pengunjung museum berusia 21th – 25th, sebanyak 30 persen pengunjung museum berusia 26th – 30th, sebanyak 22 persen pengunjung museum berusia 16th – 20th, sebanyak 4 persen pengunjung museum berusia 36th – 40th dan berusia lebih dari 40th. Dari informasi diatas, menunjukkan bahwa jumlah pengunjung terbanyak berusia 21th – 25th, yaitu sebanyak 40 persen.
Jika dilihat dari asal daerah, menunjukan sebanyak 58 persen pengunjung museum berasal dari luar DIY, sedangkan sebesar 42 persen pengunjung museum berasal dari DIY dan mayoritas pengunjung museum adalah mahasiswa yaitu sebanyak 48 persen. Frekuensi kunjungan ke museum gunungapi merapi sangat bervariasi. Memang sebagian besar pengunjung berkunjung sebanyak 1 kali, namun terdapat 21 persen pengunjung yang berkunjung 2 kali, sebanyak 8 persen berkunjung 3 kali dan sebanyak 1 persen pengunjung berkunjung lebih dari 3 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa museum gunungapi merapi sangan menarik untuk dikunjungi, sehingga membuat pengunjung untuk berkunjung kembali dan memilih museum gunungapi merapi sebagai tempat wisata.
3.2.3    Tingkat kepuasan pengunjung berdasarkan komponen
Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, selanjutnya akan dilakukan analisis tingkat kepuasan pengunjung berdasarkan 5 komponen yang diukur yaitu reliability, assurance, tangibles, responsiveness dan empaty. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi, maka dibandingkan antara rata-rata tingkat persepsi pengunjung dengan rata-rata tingkat kepuasan pengunjung.
                  =  x 100%  
                  = 86.53%
Dari perhitungan yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi cukup tinggi yaitu sebesar 86,53 persen, artinya Museum Gunungapi Merapi telah mampu memenuhi harapan pengunjung.
3.2.4        Importance Performance Analysis (IPA) berdasarkan komponen
            Untuk mengetahui komponen pelayanan apa saja yang harus ditingkatkan dan pertahankan oleh pihak manajemen Museum Gunungapi Merapi guna meningkatkan kualitas pelayanan, akan menggunakan kuadran Importance Performance Analysis  yang mengunakan nilai rata-rata dari hasil pengukuran sebagai garis pemisah kuadran dalam grafiknya. Dengan menggunakan software SPSS, maka grafik kuadran Importance Performance Analysis (IPA) seperti terlihat pada Gambar 3.1 berikut ini.  
Gambar 3.1
Grafik kuadran Importance-Performance Analysis (IPA)
berdasarkan komponen

3.2.5    Evaluasi grafik kuadran Importance-Performance Analysis (IPA)
1.      Kuadran A, concentrate here/tingkatkan kinerja.
Komponen-komponen yang terdapat pada kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang tinggi menurut reponden namun kinerjanya masih rendah. Implikasinya komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini harus di prioritaskan untuk diperbaiki. Tidak terdapat komponen yang masuk kuadran ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengelola sudah cukup baik karena telah mampu memenuhi keinginan pengunjung.
2.      Kuadran B, keep up the good work/pertahankan kinerja.
Komponen-komponen yang terletak pada kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan kinerjanya juga dinilai baik oleh responden. Komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini merupakan kekuatan atau keunggulan manajemen museum dimata responden, maka komponen-komponen dalam kuadran ini harus dipertahankan. Komponen-komponen yang masuk kuadran ini adalah, komponen ke-4 (responsiveness), dan komponen ke-5 (empaty).
3.      Kuadran C, low priority/prioritas rendah.
Komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang rendah dan kinerjanya juga dinilai kurang baik oleh pengunjung. Pengelola Museum Gunungapi Merapi perlu melakukan perbaikan kinerja terhadap komponen-komponen tersebut. Komponen yang termasuk kedalam kuadran ini dapat diabaikan dari perhatian manajemen. Komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini adalah, komponen ke-1 (reliability), dan komponen ke-2 (assurance).
4.      Kuadran Dpossible overkill/kinerja berlebihan
Komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang rendah menurut pengunjung. Peningkatan kinerja yang baik sehingga dianggap berlebihan oleh pengunjung. Peningkatan kinerja pada komponen ini hanya akan menyebabkan pemborosan. Hasil ini menunjukkan bahwa pengelola terlalu terfokus pada aspek-aspek yang berdampak kecil terhadap kepuasan pengunjung, sehingga sumberdaya yang semula dialokasikan pada aspek-aspek di dalam kategori ini dapat dialihkan kepada aspek-aspek lain yang memiliki skor tingkat kepentingan tinggi namun kinerjanya rendah. Dengan kata lain pengunjung tidak menginginkan karakteristik tersebut, tetapi ia mendapatkannya. Komponen-komponen yang terdapat dalam kuadran ini adalah, komponen ke-3 (tangibles).
3.2.6        Tingkat kepuasan pengunjung berdasarkan indikator
Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, selanjutnya akan dilakukan analisis tingkat kepuasan pengunjung berdasarkan 17 indikator yang diukur. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum gunungapi Merapi, maka dibandingkan antara rata-rata tingkat persepsi pengunjung.
                  =  x 100%
                  = 87,19%
Dari perhitungan yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi cukup tinggi yaitu sebesar 87,19 persen, artinya Museum Gunungapi Merapi telah mampu memenuhi harapan pengunjung.
3.2.7        Importance Performance Analysis (IPA) berdasarkan indikator
            Untuk mengetahui indikator-indikator pelayanan apa saja yang harus ditingkatkan dan pertahankan oleh pihak manajemen Museum Gunungapi Merapi guna meningkatkan kualitas pelayanan, akan menggunakan kuadran Importance Performance Analysis  yang mengunakan nilai rata-rata dari hasil pengukuran sebagai garis pemisah kuadran dalam grafiknya. Dengan menggunakan software SPSS, maka grafik kuadran Importance-Performance Analysis (IPA) seperti terlihat pada Gambar 3.2 berikut ini.  
Gambar 5.2
Grafik Kuadran Importance-Performance Analysis (IPA)
Berdasarkan Indikator

3.2.8        Evaluasi grafik kuadran Importance-Performance Analysis (IPA)
1.      Kuadran A, concentrate here/tingkatkan kinerja.
Indikator-indikator yang terdapat pada kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang tinggi menurut reponden namun kinerjanya masih rendah. Implikasinya indikator-indikator yang terdapat dalam kuadran ini harus di prioritaskan untuk diperbaiki. Indikator yang masuk kuadran ini adalah, indikator ke-9 (Interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman). Pengelola harus fokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja agar dapat memenuhi keinginan pengunjung.
2.      Kuadran B, keep up the good work/pertahankan kinerja.
Indikator-indikator yang terletak pada kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan kinerjanya juga dinilai baik oleh responden. Indikator-indikator yang terdapat dalam kuadran ini merupakan kekuatan atau keunggulan manajemen museum dimata responden, maka ndikator-indikator dalam kuadran ini harus dipertahankan. Indikator yang masuk kuadran ini adalah, indikator ke-11 (ruangan yang luas dan cukup ruang bagi para pengunjung), indikator ke-14 (kecepatan petugas dalam melayani pengunjung), indikator ke-15 (kerelaan petugas membantu pengunjung museum), indikator ke-16 (jam operasi sesuai kebutuhan pengunjung), dan indikator ke-17 (sikap petugas museum dalam mengutamakan kepentingan pengunjung).
3.      Kuadran C, low priority/prioritas rendah.
Indikator yang terdapat dalam kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang rendah dan kinerjanya juga dinilai kurang baik oleh reponden. Pengelola Museum Gunungapi Merapi perlu melakukan perbaikan kinerja terhadap indikator-indikator tersebut. Indikator yang termasuk kedalam kuadran ini dapat diabaikan dari perhatian manajemen. Indikator-indikator yang terdapat dalam kuadran ini adalah, indikator ke-1 (ketrampilan dan keuletan petugas museum), indikator ke-2 (pelayanan petugas terhadap keluhan pengunjung), indikator ke-3 (petugas museum yang ramah dan sopan), indikator ke-4 (pemahaman petugas terhadap seluruh informasi mengenai museum), indikator ke-7 (fasilitas yang lengkap dan menarik), dan indikator ke-12 (lokasi yang strategis).
4.      Kuadran Dpossible overkill/kinerja berlebihan
Indikator-indikator yang terdapat dalam kuadran ini memiliki tingkat kepentingan yang rendah menurut responden. Peningkatan kinerja yang baik sehingga dianggap berlebihan oleh responden. Peningkatan kinerja pada indikator-indikator ini hanya akan menyebabkan pemborosan. Hasil ini menunjukkan bahwa pengelola terlalu terfokus pada aspek-aspek yang berdampak kecil terhadap kepuasan pelanggan, sehingga sumber daya yang semula dialokasikan pada aspek-aspek di dalam kategori ini dapat dialihkan kepada aspek-aspek lain yang memiliki skor tingkat kepentingan tinggi namun kinerjanya rendah. Dengan kata lain pelanggan tidak menginginkan karakteristik tersebut, tetapi ia mendapatkannya. Indikator-indikator yang terdapat dalam kuadran ini adalah, indikator ke-5 (keamanan dan kenyamanan pengunjung selama berkunjung di museum), indikator ke-6 (pusat layanan informasi menggunakan peralatan modern), indikator ke-8 (penampilan petugas yang rapi dan sopan), indikator ke-10 (kebersihan dan kerapian ruangan yang selalu terjaga),  dan indikator ke-13 (tempat parkir yang luas dan aman).
Berdasarkan kuadran gambar Importance Performance Analysis (IPA) 3.2, indikator yang masuk pada kuadran A adalah indikator ke-9 (Interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman). Indikator ini harus diprioritaskan untuk lebih diperhatikan dan ditingkankan oleh pihak pengelola agar dapat memberikan hasil yang maksimal sehingga dapat memenuhi keinginan pengunjung. Menurut pengamatan peneliti, interior museum masih perlu diperbaiki. Hal ini terlihat dari adanya beberapa langit-langit atap museum yang rusak, beberapa toilet dan tangga yang tidak dapat dipergunanakan. Peneliti berasumsi bahwa hal-hal tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai kepuasan pengunjung sehingga interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman menjadi indikator yang masuk dalam kuadran A. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan pada beberapa interior museum guna meingkatkan kepuasan pengunjung.

4.1       Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi cukup tinggi. Tingkat kepuasan pengunjung sebesar 87,19 persen, artinya Museum Gunungapi Merapi telah mampu memenuhi harapan pengunjung.
Berdasarkan 79 responden yang menjadi sampel pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden merasa sudah cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pengelola Museum gunungapi Merapi. Kepuasan pengunjung ini terlihat dari atribut-atribut kualitas pelayanan yang berada pada kuadran B yaitu ruangan yang luas dan cukup ruang bagi para pengunjung, kecepatan petugas dalam melayani pengunjung, kerelaan petugas membantu pengunjung museum, jam operasi sesuai kebutuhan pengunjung, dan sikap petugas museum dalam mengutamakan kepentingan pengunjung. Terdapat atribut yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Museum Gunungapi Merapi, yaitu interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman.
Dari 17 indikator yang coba diteliti, terdapat 16 indikator dimana pengunjung sudah merasa puas (5 atribut pada kuadran B/pertahankan kinerja, 6 atribut masuk pada kuadran C/prioritas rendah, dan 5 indikator masuk pada kuadran D/kinerja berlebihan dan terdapat 1 indikator pada kuadran A/tingkatkan kinerja. Indikator yang belum dapat memenuhi harapan pengunjung tersebut adalah interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman.

4.2       Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, peneliti dapat memberikan beberapa saran yang kiranya bermanfaat untuk kedepannya. Dengan mengetahui indikator-indikator yang menjadi harapan dan keinginan pengunjung, diharapkan Museum Gunungapi Merapi bisa memprioritaskan serta dapat menjadi bahan pertimbangan apa yang harus terlebih dahulu diperbaiki dan tetap ditingkatkan. Diharapkan kedepannya Museum Gunungapi Merapi dapat menjadi tempat wisata favorit pengunjung dan lebih bisa menyaingi tempat wisata yang lain. Faktor yang sangat penting namun kondisi pada saat ini belum memuaskan bagi pengunjung Museum Gunungapi Merapi sehingga pihak pengelola harus mengupayakan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kinerja adalah pada interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman.
Berdasarkan indikator yang diteliti, sumber daya pada kuadran D agar dikurangi. Pengurangan sumber daa pada kuadran D ini sebaiknya dialihkan pada kuadran A untuk lebih memaksimalkan sumber daya manusia dan tentunya dapat membantu meningkatkan kinerja sehingga dapat memenuhi harapan pengunjung dan lebih efisien dan tidak terjadi pemborosan sumber daya, dan tentunya sumber daya akan lebih bermanfaat.
Interior dan dekorasi ruangan yang menarik dan nyaman ini merupakan prioritas utama yang harus ditingkatkan agar minat pengunjung terhadap Museum Gunungapi Merapi dapat lebih maksimal. Saran peneliti agar pihak pengelola lebih fokus dan memprioritaskan pada perbaikan beberapa interior museum yaitu langit-langit atap museum yang rusak, beberapa toilet dan tangga yang tidak dapat dipergunanakan sebagaimana fungsinya. Pada penelitian selanjutnya dengan metoda yang sama, peneliti menyarankan agar lebih diperluas lagi indikator-indikator yang digunakan dan juga jumlah sampelnya diperbanyak sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ihshani, D W., 2005. “Analisis kepuasan konsumen terhadap atribut Wisata Cangkuang Garut, Jawa Barat”. Skripsi tidak diterbitkan. Bogor: IPB.

Londo, C. W. 2011. “Analisis prioritas penanganan faktor-faktor penentu dalam peningkatan performance manajemen aset tetap tanah dan bangunan pada pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe”. Tesis Tidak diterbitkan. Yogyakarta: FEB-UGM.

Martila J. A. dan James S.C, 1977. “Importance-performance analysis”. Journal Of Marketing. 14 (January): pp. 77-79.

Meng Seng Wong, Nishimoto Hideki, and Philip George. 2011. “The use of importance performance analysis (IPA) in evaluating japan’s E-government service”. Journal of theoretical and applied electronic commerce research, ISSN 0718-1878 electronic version, Vol 6/ISSUE 2/AUGUST 2011/17-30. Chile.

Shi, Hui-Ying dan Chen, Chao-Chien. 2008. “A Study of service quality and satisfaction for museum taking the national museum of prehistory as an example”. The journal of human resource and adult learning Vol. 4, Num. 1, June 2008.

Supranto, J. 2000. Teknik Sampling Untuk Survei dan Eksperimen. Jakarta: Rineka Cipta.

Tyrrell, T. J. dan Okrant, M. J., 2010. ”Importance performance analysis: some recommendations from an economic planning perspective. Tourism analysis”. Vol. 9 pp. 00-00. USA.


No comments:

Post a Comment